Selasa, 10 April 2012

Flas Fiction Gokil


Pocong Mata Keranjang
Malam begitu dingin, angin yang tertiup kencang menerbangkan dedaunan yang kering. Seperti biasanya si Pocong Keren Sekali atau biasa di panggil Pongki sang pocong mata keranjang (playcong) mulai beraksi mencari mangsanya. Bukan untuk menakut-nakuti manusia tentunya, tetapi mulai mencari mangsa korban cintanya. Kebetulan ini malam jum’at waktunya wakuncar (waktu kunjung pacar). Pongki mulai beraksi, disemprotnya minyak wangi cap kemenyan mbok Darmi supaya si Kemuning kunti paling sexi se makam Desa Tunggal Sari tetap lengket dalam pelukannya.
Dijambulnya ikatan si Pongki kaya artis Jojon!, eh salah, yang jelas biar mirip kaya Taomingse artis korea yang lagi di gandrungi kunti-kunti se-antero Nusantara. Dengan lompatannya yang pasti, “jlug, jlug, jlug...” ia hentakan kakinya menuju si kunti yang berada di atas tohon tua, si pocong nampak kebingungan bagaimana cara di meraih kunti dia kan tidak bisa naik pohon?. Tetapi si Pongki tak patah arang, dengan mengambil jurus lompatan maut bak atlet lompat tinggi ia lompat dan,
“Gubrakkk...! si Pongki berhasil tersangkut di pohon rumah si kunti.
Setelah berjuang keras, mereka akhirnya bisa asik memadu cinta antara si Pongki dengan si kunti paling sexi yang kerap menjadi idola oleh pocong-pocong disini. Malam ini si Pongki nampak puas bisa berkencan dengan si Kemuning.
Keesok malamnya, si Pongki kembali mendatangi si kunti, dengan gayanya dia tampak percaya diri. Diliriknya kanan dan kiri, ketika sudah sampai di depan pohon rumah si Kunti, si Pongki tiba-tiba berbalik.
“ssyuurrrr,...” air liur mengalir dari mulutnya.
Pongki baru melihat si kunti pendatang baru, yang jauh lebih sexi dari kemuning. Dengan rayuan mautnya ia datangi si kunti yang baru meninggal tadi pagi.
“hapzzz, hipzzz, hupzzz,..” si Pongki merayu kunti baru. Dengan sekelibat kunti baru terjebak dengan rayuan maut Pongki. Di bawah pohon kamboja Pongki asik memadu kasih dengan kunti baru.
“Plakkkk...!!! terdengar keras tangan si kunti mendarat di pipi Pongki yang kasar kayak gerenda.
Kemuning tahu akan perselingkuhan Pongki. Akhirnya Kemuning sepakat dengan kunti baru untuk mengerjai si Pongki. Di iikatlah si Pongki, lalu di gantungkan dia di pohon Kamboja. Pongki tak bisa berbuat banyak dia terlihat seperti kepompong yang hanya bisa bergerak-gerak tak berdaya. Sementara itu si kemuning dan kunti baru asyik tertawa cekikikan melihat Pocong paling keren sekali di buatnya tak berdaya.
***
BIODATA PENULIS
Dedi Prestiadi. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Tarbiyah  Prodi Kependidikan Islam di STAIN Purwokerto. Selain sebagai mahasiswa penulis juga tercatat sebagai Mahasantri di Pesantren Mahasiswa (PESMA) An Najah Kutasari Purwokerto. Penulis juga aktif di komunitas Pondok Pena  Pesma An Najah, Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal, sekolah kepenulisan STAIN Press Purwokerto, dan kegiatan LPM OBSESI. Selain itu penulis juga menjabat sebagai Menteri Pengembangan dan Skill di Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Purwokerto 2011/2012. No HP: 085729205173. Atau Email: dedi.prestiadi09@gmail.com . Dan saat ini tinggal di PESMA AN NAJAH di Jl Muh Besar, Desa Kutasari, Purwokerto, Jawa Tengah.  Kode Pos 53151.