Sabtu, 07 April 2012

Flash True Story

                                                                                  Ibuku Pahlawanku
Senja sebentar lagi tenggelam termakan pekatnya malam. Digelarkannya mega jingga di antara dinding langit yang mengindahkan dunia. Raungan adzan mahrib sudah menggema memuncak hingga cakrawala. Dengan langkah sigap aku mengambil sebuah sarung dan piyama, segeralah aku pakai dengan terburu-buru di kejar suara adzan yang sebentar lgi usai. Lantas aku segera berlari menuju sebuah masjid yang terletak di seberang jalan. Dengan semangat menggebu-gebu aku berlari kencang berkejar dengan waktu supaya jangan sampai aku tertinggal oleh temanku yang lain. Aku terus berlari tanpa memperhatikan jalanan sore yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Saat aku berlari menyebrangi jalan tiba-tiba,
“Gubrakkk ...” Seketika tubuhku terpelanting dihantam sebuah motor yang melaju kencang.
Saat itu aku masih berusia 12 tahun, pandanganku buyar, hanya putih terang yang dapat aku pandangi. Orang-orang berlarian mendatangiku yang tergeletak tak berdaya di penggir jalan. Kini aku hanya bisa tergeletak tak berdaya di pelataran senja Aku tidak bisa melihat mereka, hanya suara samar-samar yang bisa aku dengar. Seketika tubuh mungilku di angkat oleh seorang lelaki yang aku tidak tahu persis siapa dia. Dari rasa sakitku yang sangat aku sempat mendengar orang-orang berteriak,.
“Terjadi Tabrak Lari, Dedi tertabrak motor ...” Teriak seorang warga.
Ibuku yang saat itu akan melaksanakan sholat maghrib langsung shock. Suaranya terdengar sayu di telingaku. Lantas ibuku mendatangiku, memelukku dengan dekapan penuh kasih sayang sementara aku tergolek tak berdaya. Dengan darah yang terus mengalir dari tubuhku, menetes membasahi bajunya dengan lumuran darahku. Ibuku mengusap kepalaku mencoba menguatkan aku. Sembari memerintahkan orang untuk memanggil kendaraan untuk segera membawaku ke rumah sakit.
Aku tersadar saat aku berada di dalam mobil. Matanya terlihat lebam, Peluh mengalir deras tak pernah berhenti membasahi pipinya. Ibuku terus memberikan motivasi kepadaku. Menguatkan aku untuk sejenak melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Aku mencoba tersenyum menenangkan ibuku yang sedari tadi terlihat lebih merasakan sakit dari pada yang aku rasakan.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) di sebuah Rumah Sakit di pinggir kota. Ibuku masih menunggu aku diluar ruangan dengan raut wajah yang gelisah senbari mengintip aku dari balik jendela. Sementara aku masih bergelut dengan sakit yang melilit tubuhku. Aku rasakan sakitnya saat operasi beralangsung. Antara sadar dan tidak, aku rasakan satu persatu jarum suntik ditusukan ke badanku untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang aku rasakan, namun aku tetap saja merasakan rasa sakitnya ketika satu persatu jarum itu dimasukan ke dalam kulit ariku. Berulang kali dokter itu melakukan padaku, berusaha menutupi lukaku yang menganga dengan beberapa jahitan di kakiku.
Hingga pada akhirnya dokterpun selesai melakukan operasi padaku. Aku mulai bisa melihat dengan jelas raut wajah ibuku yang sedari tadi terlihat sangat sedih. Ibuku menghampiriku lalu memegang tanganku yang masih terhubung dengan infus di lenganku. Aku merasakan apa yang ibuku rasakan. Betapa sayangnya ia padaku hingga seakan sakit yang aku rasakan ikut menjalar ke tubuh ibuku.
“Kamu harus kuat menahan sakit yah anaku, Disini ada ibu yang akan selalu menjagamu.” Ucap ibuku membisikan pada telingaku yang kaku.
Memang saat ini hanya Ibuku yang menemaniku. Karena Ayahku saat ini sedang bekerja ke luar kota. Ayahku sendiri hanya menyempatkan waktu pulang sekali dalam sebulan. Aku sendiri juga tidak bisa menyalahkan Ayahku, aku menyadarinya jika apa yang dilakukan ayahku semata-mata hanyalah untuk menafkahi keluarga kami.
Disinilah aku merasakan dekapan kasih sayang seorang ibu yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. Andai saja saat ini tidak ada ibu mungkin aku akan merasakan sakit yang luar biasa. Aku tergolek lemas tak berdaya. Direbahkannya tubuhku di atas kasur si salah satu ranjang rumah sakit. Ibuku dengan tulusnya merawatku, memapahku saat aku bosan di kamar, sampai ia yang mengambilkan baju-bajuku, lalu memakaikannya padaku. Sambil menunggu ayah pulang yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota ibuku terus berada disisiku.
Ibu engkaulah denyut nadiku. Engkau gendong aku selama sembilan purnama. Tanpa lelah kau berikan aku tetesan kasih sayang yang tak pernah berhenti mengalir dari dirimu. Ibu rasa sayangmulah yang membuat aku kuat sampai sekarang ini. Tanpa kamu ibu aku tidak akan mampu menahan rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Aku berjanji­­ padamu jika suatu saat aku sembuh nanti, akan aku penuhi semua keinginanmu. Aku takan pernah lupa dengan apa yang ibu pinta. Akan aku tenggaki tetesan do’a yang mengalir dari sela-sela jari-jemarimu yang tak pernah kering. Untukmu Ibu sekali lagi aku berjanji akan mengabulkan impiamu tadi. Menghajikan kedua orang tuaku suatu saat nanti. Darimu ibu aku punguti ceceran do’a dan kasih sayang yang meluber dari dalam jiwamu. Ibuku pahlawanku, terima kasih, baktiku teruntukmu selalu.