Kamis, 05 April 2012

Oleh-Oleh Khas Rumah


Nilai-Nilai Budaya dalam Pembangunan Rumah
Oleh: Dedi Prestiadi
Memiliki sebuah rumah merupakan harapan setiap orang.  Rumah bukan hanya dijadikan sebagai tempat hunian untuk melindungi penghuninya dari terpaan hujan ataupun panas. Tetapi lebih jauh dari itu, seiring dengan berjalannya waktu rumah dianggap sebagai suatu bangunan yang mengandung unsur instrinstik yang dapat mewakili pribadi dari penghuninya. Bahkan lebih jauh lagi bagi sebagian orang menganggap rumah merupakan barang bergengsi yang dapat mewakili status sosial bagi sang empunya rumah. Apapun itu tidaklah menjadi masalah, toh pada dasarnya setiap orang punya penilaian sendiri.
Ada hal yang sangat menarik ketika saya mengamati sebuah pembangunan rumah yang kebetulan rumah itu adalah rumah saya (Milik Ayah dan Ibu) sendiri. Dan hal yang sangat menarik adalah ketika membangun sebuah rumah tidaklah semudah yang saya banyangkan sebelumnya. Ternyata  dalam proses pembangunannya terdapat nilai-nilai budaya yang cukup menarik untuk saya tuliskan disini. Dimulai dari waktu memulai untuk mengawali sebuah rumah hingga sampai poses pemasangan molo (Kayu pijakan tengah). Semua rangkaian tersebut merupakan sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat sejak dahulu kala.
Dalam tradisi masyarakat kami membangun rumah diawali dengan mengadakan syukuran yang didalamnya dibumbuhi kebudayaan jawa kuno selain do’a selamat yang dipanjatkan kepada Alloh SWT dalam selamatan tersebut juga disertakan pula semacam “sesajen” yang berisikan nasi liwet dan telur, juwada pasar, kopi pait, air putih dan beberapa jajanan pasar yang diletakan di samping rumah yang akan di bangun. Kemudian dalam mengawali pembangunan juga ditentukan waktu yang pas untuk memulainya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memperlancar dan meminta keselamatan dalam proses pembangunan rumah.
Nilai-Nilai Kesakralan Pemasangan “Molo”
Memasang molo (Kayu pijakan tengah ) merupakan hal yang sangat sakral. Bagi sebagian orang memasang molo dibutuhkan perlakuan khusus untuk memasangnya. Saya sangat terkejut karena ternyata memasang molo tidaklah semudah yang saya bayangkan. Dalam prosesnya banyak sekali nilai-nilai kebudayaan yang sudah menjadi semacam “doktrin” di kalangan masyarakat di daerah kami. Untuk memasang molo maka perlu diadakan semacam ritual/do’a khusus yang dipimpin oleh seorang sesepuh desa yang sudah ahli dalam hal ini.
Pemasangan molo diawali dengan penentuan waktu pemasangan. Yakni menentukan waktu yang dianggap pas untuk menaikan molo ke atas rumah. Kebetulan waktu itu molo rumah saya harus di naikan pukul 10.00 Pagi. Kemudian dilanjutkan dengan pemanjatan do’a selamat kepada Alloh dan seperti biasanya juga disertai dengan beberapa sesajen seperti nasi liwet dan telur, hasil bumi (padi, kelapa,tebu), ayam panggang, beberapa bunga, jajanan pasar, bubur merah, ketupat, pisang, cermin dan sisir, baju, dan yang semua itu di tarus di atas bersama molo.
Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan molo untuk dinaikan keatas. Sebelum molo dinaikan ke atas maka terlebih dahulu molo di beri sebuah bendera merah putih yang didalamnya diberi isi seperti bumbu dapur dan tulisan, bahkan ada yang mengatakan jika didalamnya terdapat emasnya. Setelah selesai barulah molo keramasi. Dan ada satu hal yang sangat menarik dan sangat sakral adalah ketika molo telah dikeramasi, maka molo tersebut dilarang untuk dilangkahi. Mereka mempercayai jika melangkahi molo yang sudah dikeramasi maka akan tertimpa semacam musibah atau sebagainya. Oleh karena itulah ketika menaikan molo ke atas rumah maka diperlukan sebuah keahlian khusus oleh para tukang atau orang-orang yang membantunya. Setelah molo sampai di atas maka segera  molo yang terdapat ikatan bendera kemudian diberi sebuah payung dan diikutkan pula sebuah bantal dan tikar.
Saya sendiri tidak terlalu mengetahui maksud tersebut, yang pasti ini semua sudah menjadi tradisi bagi masyarakat disini setiap kali membangun sebuah rumah. Dan perlu diingat jika tradisi ini bukanlah suatu perbuatan syirik (menyekutukan Alloh) karena di dalam proses do’a yang dipanjatkan hanyalah kepada Alloh. Mengenai pemberian sesajen menurut argumentasi saya adalah karena pengaruh kebudayaan jawa kuno. Karena Islam masuk ke tanah jawa melalui budaya maka hal itu dapat di kategorikan kedalam tradisi kebudayaan jawa yang tidaklah salah karena tidak melenceng dari syari’at Islam. Dan mengenai sesaji merupakan sebuah makanan yang nantinnya akan dimakan bersama orang-orang sehingga dapat mempererat rasa kebersamaan. Jadi dapat dikatakan jika tradisi yang biasa dilakukan di desa kami merupakan sebuah tradisi yang posotif.
Itulah sepenggal kisah tentang nilai-nilai budaya dalam pembangunan sebuah rumah di dasa saya. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya begitulah pepatah mengatakan. So, berbanggalah atas tradisi yang ada di daerah kamu selama itu tidak melenceng dari norma-norma agama.
Tegal, 1 April 2012.