Selasa, 22 Mei 2012

Cerita Mini (CERMIN) 100 Kata


                                                          Kesederhanaan Tukang Sol Sepatu[1]
                                                           Oleh: Dedi Prestiadi
Semua berawal dari sebuah sepatu bututku. Aku masih ingat betul saat langit terasa membakar kulit. Matahari seolah berada di atas ubun-ubunku. Dengan membawa sepatu yang rusak, aku menghampiri lelaki tua renta duduk di bawah kain terpal yang kusam dan robek-robek. Jari jemarinya terlihat mahir memainkan jarum sol yang ia genggam bersama sepatu yang sedang ia perbaiki sembari menyemburkan asap rokok yang mengepul dari mulutnya.
“Permisi pak, saya mau memperbaiki sepatu.” Terangku sembari menjulurkan sepasang sepatu butut milikku.
“Iya Dek, sabar yah, silahkan menunggu sebentar...” Jawabnya.
Tatapanku terus tertuju pada Pak Parmin, sudah puluhan tahun ia menjalankan profesinya sebagai tukang sol. Aku sungguh heran, kenapa lelaki setua itu masih saja bekerja. Bukankah lebih baik jika dihabiskan untuk menikmati masa-masa tua. Aku terus berfikir kenapa ia tak istirahat saja di rumah bersama anak-anak dan cucunya. Setidaknya akan lebih baik, dibandingkan dengan kondisinya seperti sekarang ini.
Aku masih saja bercumbu dengan rasa penasaranku. Kenapa lelaki tua ini tak pensiun dari pekerjaannya. “Apakah sebegitu miskinnya, hingga sampai saat ini ia masih bergelut dengan jarum solnya?.” Belum sempat aku berfikir lebih jauh lagi, tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti di depannya. Setelah beberapa detik, seorang pemuda tampan dengan pakaian rapi keluar dari mobilnya. Aku hanya bisa bermain dengan tanya. Namun seketika rasa tanyaku terbayar sudah saat pemuda itu mencium tangan Pak Parmin yang hitam dan bau lem sepatu. Dan Pak Parmin membalas dengan kata “Ini adalah anakku.”










[1]  Tulisan ini masuk dalam Antologi 100 Cerita Mini Sahabat Pustaka Inspirasiku yang siap untuk diterbitkan.