Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen Inspirasi True Story



Belajar Memberi dan Berbagi dari Seorang Romo*
Oleh : Dedi Prestiadi
Entah kenapa udara yang berhembus dipagi ini begitu beku. Hingga mentari yang mulai menguning tak mampu merubah awan kembali tersenyum yang sedari tadi muram. Pagi  tampak sekali berbeda, udara tak  lagi sejuk, hari ini lagit begitu pucat tertutup abu yang melayang diantara angin yang sayu. Kini senyum mentari telah terenggut awan tebal yang memecah cakrawala yang perlahan menuruni bukit dan meluluh lantakan semua yang ada di mukanya. Orang-orang berlarian mereka meneriakan, “Awas ...! Ada wedus gembel yang turun dari merapi.” Suara sirine terus dibunyikan, dengan langkah seribu orang-orang pergi menyelamatkan diri.
Aku masih saja teringat suasana 26 Oktober 2010 yang lalu, ketika Gunung Merapi memuntahkan lahar dari dalam perutnya. Tak tanggung-tanggung sekitar 16 korban meninggal dunia termasuk Mbah Marijan seorang juru kunci Gunung Merapi menjadi korban keganasan gunung paling aktiv di Indonesia ini. Selain memakan korban jiwa letusan gunung merapi ini juga menghabiskan harta benda orang-orang yang ada di lereng Gunung Merapi.
Melihatnya aku hanya terpana dan terdiam ketika menyaksikan kejadian tersebut dari depan layar televisi. Batinku menangis melihat banyaknya anak-anak yang menjadi korbannya. Dari balik jendela kamar kulihat  langit seketika berubah menjadi gelap. Pagi telah merekah bersama hujan abu yang menutupi dinding-dinding rumahku. Abu merapi telah berkelana jauh hingga ribuan kilometer jaraknya, kini saatnya desa kami dijejaki abu yang sedari tadi tak pernah lelah menari-nari di udara pagi.
“Aku tidak bisa diam begini ...!”
“Aku harus membantu saudara-saudaraku yang tertimpa bencana.” Gumamku dalam hati.
Pagi itu juga aku langsung menghubungi temanku, aku beritahu mereka lewat sebuah pesan singkat yang isinya mengajak kepada mereka untuk membantu korban letusan Gunung Merapi. Aku menyuruh mereka untuk berkumpul sore hari setelah sholat ashar di sebuah surau pesantren kami.
Mentari terus beranjak, tak terasa hari sudah sore. Aku menghitungi setiap jengkal detik yang terus berlari sembari menunggu datangnya santri yang lain. Aku sendiri tinggal disebuah pesanten sembari melanjutkan sekolah disalah satu Perguruan Tinggi Agama Islam. Aku yang sedari tadi gelisah menunggu teman-temanku kini mulai menghilang saat salah seorang santri mendatangiku bersedia memenuhi undanganku.
“Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang bersedia memenuhi undanganku.”
Dialah Dimas salah seorang teman dekatku, meskipun awal pertemuan hanya di datangi oleh Dimas saja tetapi aku bangga masih ada yang mau peduli terhadap saudara-saudara kita yang terkena bencana. Meskipun kami hanya bedua tetapi kami tetap semangat untuk sepakat membantu para korban bencana letusan Gunung Merapi. Di depan teras surau kami asyik berbincang membicarakan bagaimana cara yang kita membantu mereka. Awalnya kami sempat kebingungan apa yang harus kami lakukan, sementara ini hanya do’a yang dapat kami berikan. Setelah beberapa saat kami melakukan perbincangan akhirnya kami sepakat untuk tetap membantu korban letusan Gunung Merapi.
Pagi-pagi kami titipkan do’a pada embun yang perawan. Kami mengahadap ke Pak Kyai seorang pengasuh pesantren. Kami menceritakan akan membantu korban letusan Gunung Merapi. Kami memohon do’a restu dari Pak Kyai dan meminta saran dari beliau. Dan Alhamdulillah beliau sangat menyambut baik niat kami. Dan akhirnya beliau memberikan jalan kepada kami jika nanti akan memperkenalkan sebuah teman yang ada di Jogjakarta untuk mendampingi kami mengunjungi korban letusan Gunung Merapi.
Semangat kami untuk membantu Korban amukan Gunung Merapi semakin kuat. Karena kami berdua merupakan santri pertama yang berupaya untuk melakukan aksi peduli terhadap korban bencana alam. Sebelumnya belum pernah ada santri yang melakukan hal seperti ini. Mudah-mudahan dengan niat yang tulus kami bisa memberikan contoh kepada santri yang lainnya untuk bersama-sama merasakan penderitaan terhadap saudara kita yang sedang terkena musibah.
Pagi itu juga kami sepakat untuk melakukan aksi penggalangan dana untuk korban Merapi. Karena kami tidak mempunya banyak uang untuk membantu mereka maka yang bisa kami lakukan adalah dengan aksi penggalangan dana.
Teriknya jalanan, tak menyurutkan langkah kami untuk melakukan penggalangan dana. Debu menari-nari dibawah teriknya matahari bersama Kendaraan yang berlalu lalang seolah menjadi santapan kami. Hanya dengan bermodal Gerdus kosong kami sodorkan kepada setiap penghuni jalan raya serasa berharap masih ada yang bersedia peduli dengan saudara kita yang terkena musibah. Keringat menganak sungai membasahi kulit ariku, tetapi kami tak patah arang untuk menyerah. Bagi kami susah yang kami rasakan tidaklah seberapa jika dibandingakan dengan saudara kita yang terkena keganasan Gunung Merapi.
Selama selusin hari kami lakukan aksi penggalangan dana. Alhamdulillah dana sudah terkumpul, meskipun jumlahnya tidak banyak tetapi insya Alloh  hasil penggalangan dana yang kami lakukan dapat meringankan beban yang mereka rasakan.
Kami kembali menghadap Pak Kyai menceritakan usaha yang telah kami lakukan. Akhirnya beliau mengatakan jika besok pagi kami di ajak ke Jogjakarta untuk menemui korban letusan Gunung Merapi. Kami sangat bahagia mendengar apa yang telah diucapkan Pak Kyai. Akhirnya kami bisa mendatangi para saudara kami yang terkena musibah.
Keesok harinya, ketika pagi masih lelap tertidur kami berangkat ke Jogjakarta. Disana kami diperkenalkan dengan sahabat dekat Pak Kyai beliau adalah Bapak Windi. Tak lama kemudian kami mengunjungi kampung pengungsian korban Merapi. Orang yang sudah tidak asing lagi bagi para korban bencana letusan Gunung Merapi. Beliau merupakan sosok yang sangat dikenal karena Bapak Windi adalah seorang yang sudah sering membantu jika terjadi bencana di tanah air. Bahkan sering aktivnya beliau membantu korban bencana alam sehingga nama Bapak Windi sudah terkenal di dalam dan luar negeri. Karena keaktivannya beliau di bidang sosial beliau sering di undang ke acara-acara di luar negeri seperti Amerika, Belanda, Jerman, Jepang dan beberapa negara lainnya.
Kami sangat terkejut ketika mengetahui jika beliau adalah seorang Romo di salah satu Gereja di Jogjakarta. Subhanalloh ternyata kami harus belajar memberi dari salah seorang Romo yang mengabdikan hidupnya untuk kegiatan sosial. Ternyata yang kami lakukan belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan yang Romo Windi lakukan. Kami belajar memberi dari dari seorang yang tulus memberi. Meski kami lain agama tetapi setidaknya ada nilai-nilai yang bisa menjadi motivasi kami untuk selalu memberi berbagi dengan sesama. Semoga Tuhan akan selalu membalas kebaikannya. Amin.
***
_____________________
* Tulisan ini telah diterbitkan oleh penerbit Oase Qalbu pada bulai mei 2012 yang terkumpul dalam sebuah buku berjudul "Sedekah Cinta Sang Penjaga Masjid" dengan tebal 332 halaman.