Rabu, 16 Mei 2012

Flash Fiction 500 Kata



                                                 Rendezvous Cinta di Awal Sekolah*
Oleh: Dedi Prestiadi


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa tiga bulan sudah aku menjadi murid Sekolah Menengah Pertama. Rasanya baru kemarin saat aku membaca daftar nama-nama yang diterima di Sekolah Menengah Pertama impianku. Sebuah sekolah di pinggiran desa yang dikelilingi oleh area persawahan sehingga sekolah ini lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Mewah yang berarti Mebet Sawah (Mewah). Meskipun demikian aku tetap bangga bisa berada di Sekolah Mewah ini karena meskipun letaknya terpencil namun soal prestasi tidak diragukan lagi, nama Sekolah Mewah kerap kali muncul sebagai juara pada saat event-event perlombaan antar Sekolah Menegah Pertama.
Pagi ini begitu indah, ilalang menari-nari dengan riangnya di antara hamparan padi yang mulai menguning dan kicauan burung yang melantunkan suara merdunya. Pagi ini aku bersiap untuk menjadi petugas upacara bersama teman satu kelasku. Dan kebetulan aku mendapat tugas untuk membawakan teks Pancasila yang akan di bacakan oleh Pembina Upacara. Aku sendiri sebenarnya malu karena harus berdiri di belakang Pembina Upacara, tetapi aku tak kuasa menolak saat pengurus OSIS menyuruh kelasku untuk bergantian menjadi petugas pagi ini. Upacara telah dimulai aku berjalan ke tengah lapangan tepat di samping belakang pembina. Semua mata tertuju padaku yang berdiri di depan. Rasanya malu sekali harus berdiri di sini dan menjadi tontonan siswa-siswa yang lain, belum lagi sengatan sinar mentari yang semakin lama terasa semakin membakar kulit ariku. Namun seketika semua rasa itu sirna saat mataku tertuju pada sebuah wajah cantik. Aku tak tahu siapa dia, namun wajahnya bersinar dan matanya begitu indah, memberikan kesejukan saat kupandangi.
***
Gadis itu adalah Nayla, Siswi kelas 7A. Setelah beberapa hari aku mencari tahu tentangnya akhirnya aku tahu juga siapa dia. Bayangan wajahnya masih saja membekas di benakku. Inikah yang dinamakan cinta. entah aku tak bisa menerjemahkannya. Selama ini aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini. Apakah ini menjadi pertanda masa puberku, entahlah aku tak tahu, pastinya saat aku mengingat wajahnya aku merasakan bahagia yang berlebih. Hari ini aku beranikan untuk mengirim sebuah surat untuknya. Kebetulan ada teman dekatku yang satu kelas dengannya. Tak banyak yang aku tulis memang, aku hanya berharap dia mau datang ke tempat yang aku janjikan.
***
Sudah satu bulan semenjak aku mengirimkan surat padanya. Aku selalu menunggu di tempat ini. Namun kau tak pernah menemuiku. Nampaknya surat yang aku layangkan padanya akan berakhir dengan sia-sia. Yah, mungkin saja dia tidak mau memenuhi undanganku. Biarlah aku mengingat wajah manisnya meskipun kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Aku tidak bisa fokus mengikuti pelajaran matematika pagi ini. Fikiranku kacau dibuatnya. Bayangan itu seolah hadir di papan tulis antara rentetan rumus-rumus matematika yang di tulis Pak Guru pagi ini.
Usai Pelajaran aku pergi ke perpustakaan untuk menunggumu di sini. Aku membuka buku matematika dan begitu terkejutnya aku, saat sebuah surat telah tersemat diantara lembaran-lembaran halaman buku yang aku pegang. Tak banyak memang yang kau tuliskan di surat ini. Namun ini sudah cukup membuatku terbang ke singasana kebahagiaan tertinggi.
“Aku sudah memperhatikanmu disini saat pertama kali kau menyuruhku kesini. Namun aku sengaja melihat  kesetiaanmu menungguku di sini. Dan sekarang aku telah datang memenuhi pintamu...” Ucapnya sama persis dengan isi surat ini.
Begitu kagetnya aku mendengar katanya. Baru pertama kali aku mendengar kalamnya, begitu lembut membasuh hati yang merindu penuh dengan cinta dan kemisteriusan. Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya kau datang memenuhi panggilan cintaku padamu. Disini kita bertemu menyatukan cinta yang lama kupendam.
***
_____________
* Flash Fiction yang gagal masuk sebagai kontributor dalam antologi aku dan sekolah. tetapi terpilih  sebagai flash fiction paling so sweet diantara peserta yang lain. :)