Selasa, 06 November 2012

Konflik Merusak Citra Masyarakat dan Bangsa


Oleh: Dedi Prestiadi
Maraknya konflik di indonesia akhir-akhir ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang dikenal memiliki karakter santun dan toleran. Dari data-data yang dikeluarkan oleh Kementrian Dalam Negeri menunjukan jika konflik di Indonesia terus terjadi. Sesuai data yang ada menunjukan setidaknya terdapat 93 kasus konflik pada tahun 2010, kemudian disusul 77 kasus di tahun 2011 dan diperkirakan tahun 2012 mengalami kenaikan jumlah konflik dari tahun sebelumnya.
Aksi konflik semacam ini patut mendapat perhatian khusus dari semua pihak, tidak hanya sebatas pada polisi ataupun TNI sebagai aparat keamanan. Seperti yang diungkapkan oleh orang nomor satu di Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan keprihatinannya setelah terjadinya konflik di lampung selatan. Beliau menyatakan jika semua pihak harus ikut serta menciptakan keamanan, sehingga perdamaian akan tercipta.
Setidaknya dalam kurun waktu bulan oktober saja terdapat beberapa kali pemberitaan terkait dengan konflik, berawal dari konflik tawuran antar pelajar, konflik yang sifatnya primordialisme, konflik aparat dengan mahasiswa, belum lagi konflik yang didasari unsur SARA maupun ekonomi.
Konflik semacam ini menjadi sangat ironi, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal dengan budaya melayu yang kental akan norma-norma budi pekerti dan sopan santunnya. Konflik semacam ini mengakibatkan paradigma yang melekat pada bangsa Indonesia yang santun dan sopan menjadi terancam bahkan mulai terdegradasi.
Indonesia sebagai negara multikultural menjadi bangsa yang unik karena perbedaan budaya dan karakter dari setiap daerahnya. Hal inilah yang kemudian melahirkan pancasila untuk menciptakan rasa persatuan dan kesatuan meskipun adanya perbedaan. Lantas sebenarnya apa yang menjadi pemicu konflik hingga aksi konflik horisontal mudah terjadi dimana-mana.
Meningkatnya konflik horisontal patut kita soroti mengapa masyarakat kita seakan mudah terpancing untuk melakukan tindak kekerasan. Contoh kecilnya konflik di lampung selatan yang menewaskan 12 orang menurut keterangan saksi jika konflik berdarah ini berawal dari hal yang sepele, yang seharusnya bisa diselesaikan secara musyawarah. Ini menjadi bukti jika ada yang salah dimasyarakat sehingga hal semacam ini mudah terjadi.
Dari Ramah menjadi Amarah
Mudahnya masyarakat melakukan aksi kekerasan yang berujung pada konflik menyebabkan citra masyarakat Indonesia yang terkenal ramah kini berubah menjadi amarah. Tidak dapat dipungkiri jika aksi konflik selalu berawal dari rasa marah yang menjadikan seseorang atau kelompok tersebut menjadi bertindak brutal dan eksklusif.
Maraknya konflik yang sering muncul sebagai healine berita di media nasional menjadikan citra masyarakat Indonesia menjadi jelek. Belum lagi aksi kekerasan seperti terorisme yang belum juga usai, dan aksi kenakalan pelajar. Hal semacam ini seharusnya menjadi koreksi kita bersama sebagai bangsa yang terkenal ramah.
Sebagai warga negara kita harus  menyadari jika kita adalah bangsa Indonesia yang terkenal dengan kerukunannya. Jangan biarkan citra masyarakat dan bangsa Indonesia tercoreng oleh aksi-aksi kekerasan yang terus bermunculan. Dan jangan sampai masyarakat berengkarnasi dari sifat ramah menjadi amarah. Hilangkan ego dan amarah untuk menciptakan kehidupan yang aman dan nyaman. Sehingga bangsa Indonesia akan terkenal oleh aksi santunnya bukan aksi kekerasannya.
(Dedi Prestiadi: Alumnus STAIN Purwokerto dan sekarang menjabat sebagai Waka Kurikulum di SMK Medika Farma Pemalang).