Rabu, 25 April 2012

Kiat-Kiat Membaca yang baik


Tips memahami bacaan
Oleh: Dedi Prestiadi

Bagi saya pribadi membaca merupakan suatu keharusan. Terlepas dari status saya sebagai mahasiswa yang seolah mewajibkan untuk selalu aktif membaca. Menurut saya membaca merupakan suatu proses untuk memahami maksud atau makna dari teks yang kita baca atau sebuah cara untuk mendapatkan informasi melalui sebuah tulisan. Tetapi bagi saya pribadi atau mungkin bagi banyak orang membaca adalah hal yang sulit dan melelahkan, sehingga menyebabkan kita malas untuk membaca. Membaca yang baik adalah membaca sekaligus mampu mengerti dan memahami konteks yang kita baca. Hal inilah yang sulit dilakukan oleh kebanyakan pembaca. Terkadang kita seringkali lupa apa yang telah kita baca sebelumnya. Malah mungkin ada dari sebagian orang ketika membaca dan setelah beberapa jam membaca dia sudah lupa terhadap apa yang telah ia baca sebelumnya. karena memori ingatan kita seringkali lupa akan hal-hal yang berisfat baru maka di dalam membaca dibutuhkan pemahaman mendalam untuk menjadikan memori pada otak kita lebih kuat. Lantas bagaimana cara kita untuk dapat melakukan aktifitas membaca yang baik sehingga mampu dengan baik pula dalam memahami apa yang kita baca. Berikut saya berikan tips-tips dalam memahami bacaan. Saya mengambil dari pendapat Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (1999:265). Dan beberapa cara untuk dapat memahami bacaan yang baik adalah:
1)      Jadilah Pembaca yang Aktif
Membaca bukan hanya sekedar untuk melihat huruf-huruf yang ada di dalam bahan bacaan. tetapi untuk dapat memahami bacaan yang baik maka diperlukan sifat aktif kita dalam membaca. Jangan terpaku dengan apa yang kita baca, cobalah untuk memberi respos dengan bertanya pada bahan bacaan misalnya dengan: Siapa?, Di mana?, Apa?, Mengapa?, Bagaimana?. Hal ini dimaksudkan ketika kita bertannya berarti kita telah memusatkan pikiran kita kedalam keadaan yang lebih menuntut, mengeluarkan gagasan dari teks atau seolah-olah kita telah menyedot habis isi bahan bacaan tersebut.
2)      Baca Gagasannya, Bukan Kata-katanya
Kata-kata yang digunakan oleh penulis adalah suatu cara yang digunakan untuk menyampaikan gagasannya. Dana satu-satunya cara supaya kita dapat mengerti apa yang dibaca adalah dengan membaca kata demi kata. Namun ketika kita membaca dan kata demi kata dan berusaha memahaminya secara tidak langsung akan membuat otak kita harus lebih keras dalam bekerja, karena harus berusaha mengartikannya. Membaca yang baik yakni berusaha membaca gagasannya, yakni melihat seluruh ungkapan, kalimat dan paragrafya. Dengan begitu maka membaca tidak akan terjebak pada sebuah kata-kata melainkan mampu memahami tiap kalimat yang kita baca.
3)      Libatkan Seluruh Indra Anda
Indra kita sangat penting untuk membantu kita memahami bahan bacaan. Misalnya indra penglihatan ataupaun indra pendengaran. Tanpa adanya indra tersebut maka kita akan kesulitan dalam memahami apa yang kita baca. Cobalah memanfaatkan indra pendengaran kita untuk memahami bahan bacaan caranya yakni dengan membaca secara lantang. Lalu jika buku itu milik kita maka libatkan indra kinestetik dan visual kita dengan menggaris bawahi hal-hal yang penting dengan stabilo berwarna atau yang lainnya. Hal ini dapat membantu memudahkan untuk menemukan konsep-konsep atau kata-kata inti dalam sebuah paragraf.
4)      Ciptakan Minat
Membaca merupakan aktifitas yang membosankan, oleh karena itu untuk dapat membaca kita perlu menciptakan minat untuk dapat membaca. Tanpa adanya minat maka membaca seolah dipaksakan atau kita seolah merasa tidak ikhlas dalam melakukan aktifitas tersebut, dan alhasil kita akan kesulitan dalam memahami bacaan. Ciptakaan minat untuk membaca secara menggebu lalu mulailah membaca dengan perasaan gembira hal tersebut akan memberi efek pada diri kita menjadi lebih baik lagi.
5)      Buat Peta Pikiran Bahan Bacaan Tersebut
Langkah terakhir yang dapat kita lakukan setelah membaca seluruh isi bacaan adalah dengan membuat peta pikiran bahan bacaan tersebut. Kita dapat membuat peta pikiran bahan bacaan dengan cara membuat judul-judul bab atau pembagian topik lainnya. Atau menurut Kyai saya di pesantren untuk dapat memahami bacaan dan mudah mengingatnya yakni dengan cara membuat sebuah skema atau bagan-bagan dari setiap poin-poin yang kiranya penting. Kemudian setelah skema tersebut jadi barulah kita membaca kembali secara detail untuk dingat-ingat. Dengan melakukan hal tersebut maka kita akan menjadi lebih mudah dalam memahami apa yang kita baca.
Demikianlah beberapa tips yang bisa saya berikan untuk membantu kita memahami apa yang kita baca. Semoaga dengan adanya tips-tips tersebut akan lebih memudahkan kita dalam memahami sebuah teks yang kita baca. Dan yang terpenting adalah jangan pernah malas untuk  mengawali membaca, hal itu dapat dilakukan dengan membaca  kata-kata di awal sebuah teks. Karena dengan melakukan hal itu, maka akan dapat merangsang kita untuk mengetahui lebih jauh lagi apa yang ada dalam sebuah bacaan. Akhirnya saya selaku penulis mengucapkan selamat mencoba tips-tips diatas. Semoga bisa menjadi referensi bagi kita untuk meningkatkan kualitas membaca kita. membacalah untuk membuka gerbang cakrawala. Terima kasih. J
Pondok Pena/Purwokerto, 25 April 2012

Senin, 23 April 2012

Buku Antologiku


Karyaku Kembali di Bukukan
Berawal dari sebuah curhatan yang menginspirasi akhirnya menjelma menjadi sebuah karya yang patut untuk kita baca bersama. Buku ini berisikan curhatan 50 sahabat. Termasuk curhatan saya. Inilah buku yang menginspirasi orang-orang melalui sebuah kejujuran. Alhamdulillah setelah menunggu beberapa bulan akhirnya berhasil juga di terbitkan oleh leutikaprio. Buku ini bagi saya pribadi merupakan buku yang paling berkesan karena memiliki makna untuk selalu memotivasi hidupku dalam menulis. Buku ini merupakan antologi pertama saya. Setelah karyaku berhasil masuk dalam lomba ini akhirnya semakin meningkatkan rasa semangatku untuk selalu mengembangkan diri dalam bidang kepenulisan. semoga dengan adanya buku ini mampu menjadi awal dalam hidupku untuk menjadi seorang penulis yang profesional. Karena manurut aku dengan menulis maka aku ada.
Berikut data bukunya:

Judul                : Curhat Colongan Sahabat Inspirasiku
ISBN                 : 978-602-225-376-1
TERBIT             : April 2012
Tebal               : 212 Halaman
Penerbit          : Leutika Prio
Harga              : Rp 44.000,-
Sinopsis           : Maaf itulah kata yang mungkin harus kupersembahkan untuk kisah yang memalukan yang terukir antara aku dan kawan kecilku. Tetapi jauh di dasar hatiku aku adalah kesatria atas keberanian pengakuanku. Dan ingin dunia iri akan hebatnya cerita persahabatanku. (Wirasatriaji-Dua Ratus Rupiah).
Rahasia ini begitu lama kusimpan. Tetapi aku berfikir jika pengalaman hidup ini akan berarti jika dibagi dengan orang lain. Aku rela menggadaikan rasa malu dan menuliskan kisahku dalam buku ini. Semua demi hikmah yang bisa dipetik. (Kamiludin Aziz-Tenang Membawaku Selamat).

Khusus Kamu saya berikan diskon sampai 10%. Jadi silahkan order ke saya sms ke Dedi Prestiadi: 085729205173. Atau pesan ke alamat www.leutikaprio.com

Sabtu, 21 April 2012

Mencari Kartini-Kartini Masa Kini


Pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah pertama kalinya Raden Adjeng Kartini dilahirkan. RA Kartini memanglah sosok wanita yang patut kita teladani. Di usianya yang sangat muda beliau sudah memberikan gagasan tentang kemajuan perempuan Indonesia. RA Kartini wafat ketika berumur 25 tahun tepatnya pada tanggal 17 September 1904. Dia adalah seorang tokoh perempuan di indonesia yang dengan semangat memperjuangkan emansipasi perempuan indonesia. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan mendirikan “Sekolah Kartini” oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Kini seratus tiga puluh tiga tahun sudah kita mengenang Kartini salah satu pahlawan perempuan indonesia. Meskipun jasad telah tiada tetapi jasa akan selalu mewangi sepanjang perjalanan indonesia.  Sebagai salah satu pahlawan bangsa patut kita apresiasi yang sebesar besarnya atas jasa-jasanya. Dialah sedikit dari pahlawan perempuan di Indonesia di tengah dominasi pahlawan laki-laki. Lantas setelah seratus tiga puluh dua tahun apakah kita hanya akan terbuai oleh kemanisan yang telah ditorehkan Kartini? Jangan sampai hingar bingar peringatan hari kartini mampu melupakan perjuangannya dulu dan  mengikis makna di balik hari bersejarah ini.
Sudah sepantasnya perempuan indonesia masa kini mencontoh perjuangan RA Kartini. Sehingga kita mampu menemukan sosok kartini-kartini masa kini. Melihat perjuangan RA Kartini dalam pendidikan menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Semangat tanpa kenal lelah Kartini untuk membangun sekolah-sekolah patut kita contoh. Pemikirannya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan sudah selayaknya kita jadikan referensi untuk pengembangan dunia pendidikan kita saat ini. Sehingga tokoh pendidikan saat ini tidak hanya di hiasi oleh kaum adam saja. Sudah selayaknya kaum hawa menunjukan tajinya sebagai bukti jika semangat Kartini yang melekat pada perempuan-perempuan indonesia terwariskan dengan baik.
Saatnya perempuan-perempuan masa kini sebagai calon-calon pengganti RA Kartini mulai berfikir untuk memajukan dunia pendidikan indonesia saat ini, yang semakin karut marut oleh pemikiran pragmatisme yang mulai membudidaya didunia pendidikan indonesia. Sehingga apa yang diperjuangkan Kartini dahulu tidak sia-sia. Jika Kartini dulu saja bisa yang berjuang dari hadangan kolonialisme, tentunya tidak ada alasan perempuan sekarang tidak bisa melanjutkan prjuangan Kartini. Mari buktikan jika perempuan-perempuan indonesia mampu mewarisi semangat kartini khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga mampu membawa setetes penyegaran ditengah dahaganya kualitas pensisikan indonesia yang sangat memprihatinkan oleh pola fikir Pragmatisme. Mari saatnya perempuan-perempuan Indonesia meniru RA Kartini yang berjuang dengan ikhlas tanpa pamprih, yang didasari pada cita-cita suci bagi Indonesia. Bagi pendidikan indonesia khususnya. Maju perempuan Indonesia. 

Selasa, 10 April 2012

Flas Fiction Gokil


Pocong Mata Keranjang
Malam begitu dingin, angin yang tertiup kencang menerbangkan dedaunan yang kering. Seperti biasanya si Pocong Keren Sekali atau biasa di panggil Pongki sang pocong mata keranjang (playcong) mulai beraksi mencari mangsanya. Bukan untuk menakut-nakuti manusia tentunya, tetapi mulai mencari mangsa korban cintanya. Kebetulan ini malam jum’at waktunya wakuncar (waktu kunjung pacar). Pongki mulai beraksi, disemprotnya minyak wangi cap kemenyan mbok Darmi supaya si Kemuning kunti paling sexi se makam Desa Tunggal Sari tetap lengket dalam pelukannya.
Dijambulnya ikatan si Pongki kaya artis Jojon!, eh salah, yang jelas biar mirip kaya Taomingse artis korea yang lagi di gandrungi kunti-kunti se-antero Nusantara. Dengan lompatannya yang pasti, “jlug, jlug, jlug...” ia hentakan kakinya menuju si kunti yang berada di atas tohon tua, si pocong nampak kebingungan bagaimana cara di meraih kunti dia kan tidak bisa naik pohon?. Tetapi si Pongki tak patah arang, dengan mengambil jurus lompatan maut bak atlet lompat tinggi ia lompat dan,
“Gubrakkk...! si Pongki berhasil tersangkut di pohon rumah si kunti.
Setelah berjuang keras, mereka akhirnya bisa asik memadu cinta antara si Pongki dengan si kunti paling sexi yang kerap menjadi idola oleh pocong-pocong disini. Malam ini si Pongki nampak puas bisa berkencan dengan si Kemuning.
Keesok malamnya, si Pongki kembali mendatangi si kunti, dengan gayanya dia tampak percaya diri. Diliriknya kanan dan kiri, ketika sudah sampai di depan pohon rumah si Kunti, si Pongki tiba-tiba berbalik.
“ssyuurrrr,...” air liur mengalir dari mulutnya.
Pongki baru melihat si kunti pendatang baru, yang jauh lebih sexi dari kemuning. Dengan rayuan mautnya ia datangi si kunti yang baru meninggal tadi pagi.
“hapzzz, hipzzz, hupzzz,..” si Pongki merayu kunti baru. Dengan sekelibat kunti baru terjebak dengan rayuan maut Pongki. Di bawah pohon kamboja Pongki asik memadu kasih dengan kunti baru.
“Plakkkk...!!! terdengar keras tangan si kunti mendarat di pipi Pongki yang kasar kayak gerenda.
Kemuning tahu akan perselingkuhan Pongki. Akhirnya Kemuning sepakat dengan kunti baru untuk mengerjai si Pongki. Di iikatlah si Pongki, lalu di gantungkan dia di pohon Kamboja. Pongki tak bisa berbuat banyak dia terlihat seperti kepompong yang hanya bisa bergerak-gerak tak berdaya. Sementara itu si kemuning dan kunti baru asyik tertawa cekikikan melihat Pocong paling keren sekali di buatnya tak berdaya.
***
BIODATA PENULIS
Dedi Prestiadi. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Tarbiyah  Prodi Kependidikan Islam di STAIN Purwokerto. Selain sebagai mahasiswa penulis juga tercatat sebagai Mahasantri di Pesantren Mahasiswa (PESMA) An Najah Kutasari Purwokerto. Penulis juga aktif di komunitas Pondok Pena  Pesma An Najah, Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal, sekolah kepenulisan STAIN Press Purwokerto, dan kegiatan LPM OBSESI. Selain itu penulis juga menjabat sebagai Menteri Pengembangan dan Skill di Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Purwokerto 2011/2012. No HP: 085729205173. Atau Email: dedi.prestiadi09@gmail.com . Dan saat ini tinggal di PESMA AN NAJAH di Jl Muh Besar, Desa Kutasari, Purwokerto, Jawa Tengah.  Kode Pos 53151.

Forum Penyair Internasional Indonesia: JADWAL

Forum Penyair Internasional Indonesia: JADWAL: FESTIVAL PUISI INTERNASIONAL, 7-9 APRIL DI UIN MALANG 1. PEMBUKAAN FESTIVAL • Keynote speech : Mendikbud • Penampilan Puisi oleh Para P...

Sabtu, 07 April 2012

Flash True Story

                                                                                  Ibuku Pahlawanku
Senja sebentar lagi tenggelam termakan pekatnya malam. Digelarkannya mega jingga di antara dinding langit yang mengindahkan dunia. Raungan adzan mahrib sudah menggema memuncak hingga cakrawala. Dengan langkah sigap aku mengambil sebuah sarung dan piyama, segeralah aku pakai dengan terburu-buru di kejar suara adzan yang sebentar lgi usai. Lantas aku segera berlari menuju sebuah masjid yang terletak di seberang jalan. Dengan semangat menggebu-gebu aku berlari kencang berkejar dengan waktu supaya jangan sampai aku tertinggal oleh temanku yang lain. Aku terus berlari tanpa memperhatikan jalanan sore yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Saat aku berlari menyebrangi jalan tiba-tiba,
“Gubrakkk ...” Seketika tubuhku terpelanting dihantam sebuah motor yang melaju kencang.
Saat itu aku masih berusia 12 tahun, pandanganku buyar, hanya putih terang yang dapat aku pandangi. Orang-orang berlarian mendatangiku yang tergeletak tak berdaya di penggir jalan. Kini aku hanya bisa tergeletak tak berdaya di pelataran senja Aku tidak bisa melihat mereka, hanya suara samar-samar yang bisa aku dengar. Seketika tubuh mungilku di angkat oleh seorang lelaki yang aku tidak tahu persis siapa dia. Dari rasa sakitku yang sangat aku sempat mendengar orang-orang berteriak,.
“Terjadi Tabrak Lari, Dedi tertabrak motor ...” Teriak seorang warga.
Ibuku yang saat itu akan melaksanakan sholat maghrib langsung shock. Suaranya terdengar sayu di telingaku. Lantas ibuku mendatangiku, memelukku dengan dekapan penuh kasih sayang sementara aku tergolek tak berdaya. Dengan darah yang terus mengalir dari tubuhku, menetes membasahi bajunya dengan lumuran darahku. Ibuku mengusap kepalaku mencoba menguatkan aku. Sembari memerintahkan orang untuk memanggil kendaraan untuk segera membawaku ke rumah sakit.
Aku tersadar saat aku berada di dalam mobil. Matanya terlihat lebam, Peluh mengalir deras tak pernah berhenti membasahi pipinya. Ibuku terus memberikan motivasi kepadaku. Menguatkan aku untuk sejenak melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Aku mencoba tersenyum menenangkan ibuku yang sedari tadi terlihat lebih merasakan sakit dari pada yang aku rasakan.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) di sebuah Rumah Sakit di pinggir kota. Ibuku masih menunggu aku diluar ruangan dengan raut wajah yang gelisah senbari mengintip aku dari balik jendela. Sementara aku masih bergelut dengan sakit yang melilit tubuhku. Aku rasakan sakitnya saat operasi beralangsung. Antara sadar dan tidak, aku rasakan satu persatu jarum suntik ditusukan ke badanku untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang aku rasakan, namun aku tetap saja merasakan rasa sakitnya ketika satu persatu jarum itu dimasukan ke dalam kulit ariku. Berulang kali dokter itu melakukan padaku, berusaha menutupi lukaku yang menganga dengan beberapa jahitan di kakiku.
Hingga pada akhirnya dokterpun selesai melakukan operasi padaku. Aku mulai bisa melihat dengan jelas raut wajah ibuku yang sedari tadi terlihat sangat sedih. Ibuku menghampiriku lalu memegang tanganku yang masih terhubung dengan infus di lenganku. Aku merasakan apa yang ibuku rasakan. Betapa sayangnya ia padaku hingga seakan sakit yang aku rasakan ikut menjalar ke tubuh ibuku.
“Kamu harus kuat menahan sakit yah anaku, Disini ada ibu yang akan selalu menjagamu.” Ucap ibuku membisikan pada telingaku yang kaku.
Memang saat ini hanya Ibuku yang menemaniku. Karena Ayahku saat ini sedang bekerja ke luar kota. Ayahku sendiri hanya menyempatkan waktu pulang sekali dalam sebulan. Aku sendiri juga tidak bisa menyalahkan Ayahku, aku menyadarinya jika apa yang dilakukan ayahku semata-mata hanyalah untuk menafkahi keluarga kami.
Disinilah aku merasakan dekapan kasih sayang seorang ibu yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. Andai saja saat ini tidak ada ibu mungkin aku akan merasakan sakit yang luar biasa. Aku tergolek lemas tak berdaya. Direbahkannya tubuhku di atas kasur si salah satu ranjang rumah sakit. Ibuku dengan tulusnya merawatku, memapahku saat aku bosan di kamar, sampai ia yang mengambilkan baju-bajuku, lalu memakaikannya padaku. Sambil menunggu ayah pulang yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota ibuku terus berada disisiku.
Ibu engkaulah denyut nadiku. Engkau gendong aku selama sembilan purnama. Tanpa lelah kau berikan aku tetesan kasih sayang yang tak pernah berhenti mengalir dari dirimu. Ibu rasa sayangmulah yang membuat aku kuat sampai sekarang ini. Tanpa kamu ibu aku tidak akan mampu menahan rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Aku berjanji­­ padamu jika suatu saat aku sembuh nanti, akan aku penuhi semua keinginanmu. Aku takan pernah lupa dengan apa yang ibu pinta. Akan aku tenggaki tetesan do’a yang mengalir dari sela-sela jari-jemarimu yang tak pernah kering. Untukmu Ibu sekali lagi aku berjanji akan mengabulkan impiamu tadi. Menghajikan kedua orang tuaku suatu saat nanti. Darimu ibu aku punguti ceceran do’a dan kasih sayang yang meluber dari dalam jiwamu. Ibuku pahlawanku, terima kasih, baktiku teruntukmu selalu.

Kamis, 05 April 2012

Oleh-Oleh Khas Rumah


Nilai-Nilai Budaya dalam Pembangunan Rumah
Oleh: Dedi Prestiadi
Memiliki sebuah rumah merupakan harapan setiap orang.  Rumah bukan hanya dijadikan sebagai tempat hunian untuk melindungi penghuninya dari terpaan hujan ataupun panas. Tetapi lebih jauh dari itu, seiring dengan berjalannya waktu rumah dianggap sebagai suatu bangunan yang mengandung unsur instrinstik yang dapat mewakili pribadi dari penghuninya. Bahkan lebih jauh lagi bagi sebagian orang menganggap rumah merupakan barang bergengsi yang dapat mewakili status sosial bagi sang empunya rumah. Apapun itu tidaklah menjadi masalah, toh pada dasarnya setiap orang punya penilaian sendiri.
Ada hal yang sangat menarik ketika saya mengamati sebuah pembangunan rumah yang kebetulan rumah itu adalah rumah saya (Milik Ayah dan Ibu) sendiri. Dan hal yang sangat menarik adalah ketika membangun sebuah rumah tidaklah semudah yang saya banyangkan sebelumnya. Ternyata  dalam proses pembangunannya terdapat nilai-nilai budaya yang cukup menarik untuk saya tuliskan disini. Dimulai dari waktu memulai untuk mengawali sebuah rumah hingga sampai poses pemasangan molo (Kayu pijakan tengah). Semua rangkaian tersebut merupakan sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat sejak dahulu kala.
Dalam tradisi masyarakat kami membangun rumah diawali dengan mengadakan syukuran yang didalamnya dibumbuhi kebudayaan jawa kuno selain do’a selamat yang dipanjatkan kepada Alloh SWT dalam selamatan tersebut juga disertakan pula semacam “sesajen” yang berisikan nasi liwet dan telur, juwada pasar, kopi pait, air putih dan beberapa jajanan pasar yang diletakan di samping rumah yang akan di bangun. Kemudian dalam mengawali pembangunan juga ditentukan waktu yang pas untuk memulainya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memperlancar dan meminta keselamatan dalam proses pembangunan rumah.
Nilai-Nilai Kesakralan Pemasangan “Molo”
Memasang molo (Kayu pijakan tengah ) merupakan hal yang sangat sakral. Bagi sebagian orang memasang molo dibutuhkan perlakuan khusus untuk memasangnya. Saya sangat terkejut karena ternyata memasang molo tidaklah semudah yang saya bayangkan. Dalam prosesnya banyak sekali nilai-nilai kebudayaan yang sudah menjadi semacam “doktrin” di kalangan masyarakat di daerah kami. Untuk memasang molo maka perlu diadakan semacam ritual/do’a khusus yang dipimpin oleh seorang sesepuh desa yang sudah ahli dalam hal ini.
Pemasangan molo diawali dengan penentuan waktu pemasangan. Yakni menentukan waktu yang dianggap pas untuk menaikan molo ke atas rumah. Kebetulan waktu itu molo rumah saya harus di naikan pukul 10.00 Pagi. Kemudian dilanjutkan dengan pemanjatan do’a selamat kepada Alloh dan seperti biasanya juga disertai dengan beberapa sesajen seperti nasi liwet dan telur, hasil bumi (padi, kelapa,tebu), ayam panggang, beberapa bunga, jajanan pasar, bubur merah, ketupat, pisang, cermin dan sisir, baju, dan yang semua itu di tarus di atas bersama molo.
Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan molo untuk dinaikan keatas. Sebelum molo dinaikan ke atas maka terlebih dahulu molo di beri sebuah bendera merah putih yang didalamnya diberi isi seperti bumbu dapur dan tulisan, bahkan ada yang mengatakan jika didalamnya terdapat emasnya. Setelah selesai barulah molo keramasi. Dan ada satu hal yang sangat menarik dan sangat sakral adalah ketika molo telah dikeramasi, maka molo tersebut dilarang untuk dilangkahi. Mereka mempercayai jika melangkahi molo yang sudah dikeramasi maka akan tertimpa semacam musibah atau sebagainya. Oleh karena itulah ketika menaikan molo ke atas rumah maka diperlukan sebuah keahlian khusus oleh para tukang atau orang-orang yang membantunya. Setelah molo sampai di atas maka segera  molo yang terdapat ikatan bendera kemudian diberi sebuah payung dan diikutkan pula sebuah bantal dan tikar.
Saya sendiri tidak terlalu mengetahui maksud tersebut, yang pasti ini semua sudah menjadi tradisi bagi masyarakat disini setiap kali membangun sebuah rumah. Dan perlu diingat jika tradisi ini bukanlah suatu perbuatan syirik (menyekutukan Alloh) karena di dalam proses do’a yang dipanjatkan hanyalah kepada Alloh. Mengenai pemberian sesajen menurut argumentasi saya adalah karena pengaruh kebudayaan jawa kuno. Karena Islam masuk ke tanah jawa melalui budaya maka hal itu dapat di kategorikan kedalam tradisi kebudayaan jawa yang tidaklah salah karena tidak melenceng dari syari’at Islam. Dan mengenai sesaji merupakan sebuah makanan yang nantinnya akan dimakan bersama orang-orang sehingga dapat mempererat rasa kebersamaan. Jadi dapat dikatakan jika tradisi yang biasa dilakukan di desa kami merupakan sebuah tradisi yang posotif.
Itulah sepenggal kisah tentang nilai-nilai budaya dalam pembangunan sebuah rumah di dasa saya. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya begitulah pepatah mengatakan. So, berbanggalah atas tradisi yang ada di daerah kamu selama itu tidak melenceng dari norma-norma agama.
Tegal, 1 April 2012.