Selasa, 13 November 2012

Cerpen Pesantren

                                                                          Suami Rahasia**
Oleh: Dedi Prestiadi*
Aku tak kuasa menolak semua yang kau pinta. Memilikimu adalah segalanya. Setiap kalam yang terucap dari bibirmu seperti buain nafas yang tak bisa aku elakan. Silahkan kasih, ya aku panggil kau sebagai seorang kekasih pada malam ini. Kini dia tak hanya sebatas Ustadz yang mengajariku kitab-kitab kuning, tetapi malam ini jauh, terasa sangat jauh sekali jika aku harus memanggilmu dengan sebutan Ustadz. Dengan perasaan melayang terpaksa aku tanggalkan kata Ustadz yang biasa aku pakai saat dikelas bersama teman-temanku, karena malam ini hanya ada antara aku dan kamu, kasih.
Gemerlap bintang yang bersanding dengan sepotong rembulan di malam ini biarlah menjadi saksi bisu percumbuan kita. Lalu biarlah angin menerbangkan roma wewangian percintaan kita sampai menujum ke puncak berahi kita. Aku nikmati saat jari jemarimu satu persatu melucuti kain yang menempel di tubuhku. Dia  menarik kerudung warna jingga kesayanganku, lalu dengan perlahan ia lumati pakaianku hingga tak ada lagi sehelai kainpun yang tersisa di tubuhku. Entah karena apa dia lakukan ini padaku. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kini semua kataku seakan mati termakan nafsu berahi yang semakin membuncah. Malam ini biarlah aku pasrah, aku tak bisa menolak rasa ta’dzimku padamu.
Syukron, Habibati[1]kalamu menusuk telingaku yang kaku.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya anggukan kepala yang bisa aku isyaratkan padanya. Entah setan apa yang telah merasuki kami malam ini, hingga kami sepakat untuk sejenak menanggalkan sebutan kami sebagai seorang santri dan Ustadz. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat saat semua sudah musnah, keperawananku telah usai ditangan orang yang sangat aku kagumi.
***
Kejadian itu terus saja datang bersama waktu yang terus berdenting, membayangiku. Aku hanya seorang munafik yang menutupi semua busukku pada semua orang. Aku bingung harus berbuat apa. Entahlah, semoga Tuhan masih mau mengampuni dosa-dosa kami. Meski kami tahu jika perzinaan merupakan sebuah dosa besar. Akupun tahu itu seperti yang disebutkan di dalam ayat Qur’an surat Al-Isra’ Ayat 32[2]. Aku hanya bisa termenung berbalut rasa sesalku yang amat sangat.
“Layla...” seseorang memanggilku, dan aku sangat kenal dengan suara itu. Yah, itu suara Ustadz Imam, seorang yang sangat aku kagumi itu. Rasa senang, sakit dan penyesalan bercampur jadi satu, jantung ini semakin berdetak kencang saat aku lihat Ustadz Imam  berjalan menghampiiriku.
“Layla, maafkan aku atas sikapku malam itu...” ucap Ustadz Imam dengan wajah penuh  penyesalan.
Aku bingung harus berkata apa. Aku malu pada diri ini. Jujur andai kau tahu, aku juga sangat menikmati malam itu, gumam batinku. Dan  lagi hanya anggukan kepala yang bisa aku berikan sebagai jawaban atas pertanyaanmu.
“Layla maukah kau menikah siri denganku?, sebagai pertanggung jawaban atas semua yang aku perbuat padamu.”
Aku sangat terkejut mendengar apa yang ia ungkapkan padaku. Aku bingung harus berkata apa. Andai saja kedua orang tuaku masih hidup pastilah ia akan sakit sekali melihat aku seperti sekarang ini. aku tidaklah lebih dari seorang yang hina dan munafik. Aku sangat berat jika harus berkata tidak, dengan beberapa pertimbangan akhirnya aku turuti pintamu itu.
***
Sebulan usai saat aku dan dia melakukan ijab qabul. Kini, meskipun hanya sebatas pernikahan siri aku bisa sedikit lebih tenang. Meskipun hati ini sangat cemas jikalau Pak Kyai dan santri mengetahui statusku saat ini. Entah, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika semua terungkap.  Biarlah semua ini menjadi rahasia antara aku, dia, Tuhan dan malam yang menjadi persaksian kisah ini.
“Hupz...” Dari belakang di memeluk diriku saat berada di pojok kelas. Segera aku berbalik badan, dan memang benar seperti dugaanku sebelumnya, jika ini adalah suami rahasiaku. Kunikmati dekapan pelukannya meskipun berbalut rasa cemas yang menggunung. Aku takut jika ada santri atau Ustadz lain yang melihat kami.
Dengan suara sepoi dia membisikan sebuah kalimat padaku “Layla, datanglah nanti sehabis senja mengulum sinarnya, aku menunggumu di rumah percintaan kita.” Hatiku berbunga, meskipun jauh di lubuk sana aku merasa sangat menyesal.
Aku penuhi permintaanmu lagi, saat senja mulai menggulung sinarnya. Aku datangi rumah percintaan kita, di sebuah losmen kecil tak jauh dari pesantren. Saat di tempat ini bayangan itu masih nampak jelas saat pertama kali jari jemarimu menggerayangi kulit ariku. Dan seperti yang sudah kuduga. Kau sudah berada disini sebelum aku menginjakan kaki di pelataran tempat ini. Lagi, hal ini seperti dahulu saat kau menyambutku dengan senyuman penuh rayu atau nafsu. Dan akhirnya kami habiskan malam ini dengan penuh percintaan.
Kini tak ada lagi batas antara aku dan dia. Semua menyatu dalam satu raga. Aku terdiam melihatmu seperti kesetanan. Kau endus tubuhku setiap jengkal, tak ada yang terlewati sedikitpun, seperti sebuah harimau yang siap menerka mangsanya. Rasanya seperti sia-sia saja saat kau ajari aku dan santri lainnya dalam sebuah kitab Qurotul ‘Uyun[3]. Kau nampak sekali pikun dengan apa yang kau ajarkan kepada kami selama ini. Sementara aku hanya bisa tergulak lemah tak berdaya dengan rintihan yang terlontar mesra dari bibir ini.
***
Tak terasa tiga purnama sudah kita lewati pernikahan kucing-kucingan ini. Dan perutku nampaknya mulai membuncit, mengandung anak kita. Rasanya ingin sekali aku kabarkan berita bahagia ini kepada suamiku, dan juga kerabatku. Aku ingin membuktikan jika aku bangga karena telah membuktikan jika aku seorang perempuan yang bisa hamil. Tapi sayang, rasa ini justru menjadi beban bagiku, saat aku harus menyimpan rapat semuanya. Aku takut jika Ustadz Imam belum siap dengan semua ini. aku takut aib kami akan diketahui santri-santri dan keluarga nDalem[4]. Lagi, biarlah sementara aku simpan semua sebelum nanti aku keluar dari sini dan menjadi keluarga bahagia dengan Ustadz Imam.
“Jangan melamun Ning...” sapa seorang perempuan yang terlihat sedang bunting, dan membawa sebuah tas jinjing.
“Perkenalkan, saya Nayla...”, siapa nama kamu?” katanya lagi.
“Saya Layla, salam kenal.” Jawabku.
“Mba Nayla dari mana?, dan mau kemana?”
“Aku dari sebuah desa kecil, di Jawa Timur, aku sedang mencari ayah dari bayi ini yang kata seseorang dia pergi ke daerah barat” jawabnya.
Sore itu aku habiskan bersama teman baruku yang baru bertemu di sebuah warung kecil pinggir pesantren. Meski baru kenal, kami sudah saling bercerita tentang kisah kami. Mendengar kisahnya aku begitu terharu. Dia pergi ke sini untuk mencari ayah dari bayi yang dikandungnya. Jauh-jauh dari Jawa Timur hanya ingin meminta pertanggung jawaban dari seorang lelaki yang begitu keji dan hina. Betapa tidak setelah ia menikmati keperawanannya tanpa rasa bersalah dia pergi meninggalkannya begitu saja. Seolah lupa dengan apa yang telah ia perbuat. Dan yang lebih membuatku cemas, jika dia telah dinikahi secara siri oleh lelaki itu.
Dada ini sesak. Terasa sakit jika mendengar pernikahan siri, semoga saja aku tak bernasib sama dengannya. Aku masih percaya Ustadz Imam, aku sangat percaya dengan janji-janji dia yang akan mencatatkan pernikahan kami tidak lama lagi. Diapun telah berjanji akan tetap setia bersamaku. Sebagai seorang Ustadz kalam dia sangat aku percayai. Tak pernah aku berfikir akan terucap kalam dusta dari mulutnya.
“Mba Nayla, Sebentar lagi adzan Maghrib, kamu tidak memiliki rumah, silahkan malam ini mampirlah ke pondok aku, kamu bisa bermalam di kamarku sebelum besok melanjutkan pencarianmu” terangku.
“Terima kasih Layla, atas pertolonganmu” jawabnya dengan wajah berbingar-bingar.
***
“Mba Nay, malam ini akan aku kenalkan suami rahasiaku, mba Nay jangan bilang pada santri lainnya, jika dia suamiku. Nanti ba’da Isya dia mengajarkan kitab Qurotul ‘Uyun di kelas aku”. Terangku pada Nayla.
Satu persatu santri-santri lainnya memasuki sebuah ruang kelas di dekat sebuah masjid pesantren. Aku sengaja duduk di bagian belakang biar bisa sedikit ngobrol dengan Nayla. Rasanya tak sabar ingin memperkenalkan lelaki idaman, yang aku puja-puja selama ini.
Suasana seketika hening, dari kejauhan terlihat Ustadz Imam mulai mendekat ke ruang kelas. Hatiku berdetak kencang. Andai saja semua tahu jika dia adalah suamiku pasti yang lain akan iri kepadaku, tidak hanya karena ketampanan Ustadz Imam tetapi karena kecerdasan beliau. Dan aroma wangi tubuhnya memenuhi ruang kelas, aroma parfum melati tercium hingga batang hidungku. Ustadz Imam telah masuk ke ruang kelas.
“Inilah suami rahasiaku mba Nay,..” Ungkapku dengan perasaan bangganya.
Nayla hanya bisa terpaku. Tatapannya kosong. Dengan segera ia tutupi mulutnya. Lelaki yang ia cari selama ini ternyata ada di depan matanya. Mungkin dia sudah tidak lagi mengenali tatapan matanya. Padahal dulu dia sangat suka menatap matanya. Nayla, terdiam, tak percaya jika Ustadz  Imam ternyata suaminya yakni Ustadz Amin yang dulu ia kenal. Sekarang dengan pandainya dia merubah namanya menjadi Ustadz Imam.
“Kenapa diam mba Nay, terpesona melihat rupa tampan suamiku yah?”
Dan malam ini semua diam. Biarlah Ustadz Amin menjadi Ustadz Imam, aku tak tega jika harus mengungkapkan pada Layla tentang Ustadz Imam. Aku bisa merasakan perasaan Layla jika harus aku ungkapkan disini.
***
“Ustadz Amin!!!”
“Masih ingat kau dengan aku?” tutur Nayla.
“Nayla, kenapa kau berada disini?”, dari mana kau tahu aku di sini?”
“Itu semua tidaklah penting aku jawab, lihatlah perut ini. di dalamnya ada darah daging kamu? Aku mau kau bertanggung jawab!!!”
“Maaf aku tidak bisa bertanggung jawab, mana bukti surat-suratnya jika kau adalah istriku, dan bayi itu adalah darah daging aku?”
“Dasar lelaki buaya, Ustadz macam apa kau ini!!! kau tidaklah lebih baik dari seorang bajingan. Kau hanya bisa menutupi rasa nafsumu diantara kitab-kitab kuning dan rayuanmu.”
“Plaakkkk” dengan kencang tangan Nayla mendarat di pipi Ustadz Imam.
Dengan sesenggukan terdengar suara tangis dari balik dinding kelas. Aku mendengarkan semua kejadian antara suamiku dengan Nayla. Kepercayaan yang selama ini aku berikan ternyata musnah sudah. Semua begitu sakit kurasa.
“Hahahahaha..” Ustadz Imam tertawa terbahak-bahak. Seakan puas dengan apa yang ia saksikan malam ini.
“Dasar perempuan bodoh..!!!, kau ini saja yang terlalu bernafsu ingin memilikiku. Aku sengaja menikah siri dengan kalian supaya kalian tidak bisa menuntutku.” Ucap Ustadz Imam dengan muka kegirangan.
“Dasar Ustadz palsu!!!, kau bukan Ustadz tetapi kau hanya seorang gigolo bodoh, jangan pernah mengaku Ustadz di depan santri-santri!!!”. teriak aku, dengan air mata yang masih menetes aku berlari sekuat tenaga menuju kamar.
***
Paginya setelah sholat shubuh, seluruh santri dikumpulkam menjadi satu, tidak seperti biasanya Kyai Rokhim memerintahkan kami untuk berkumpul di Masjid ba’da Shubuh. Disisi Kyai Rokhim aku lihat sosok lelaki bermuka dua, aku ingin sekali mengambil sebuah pisau lalu aku tancapkan pada jantungnya. Muak sekali aku melihat dia.
Dengan sedikit deheman, Kyai Rokhim membuka perkataan. “Seluruh santri-santri yang saya banggakan, maksud saya mengumpulkan kalian disini adalah untuk mengumumkan kabar gembira. Jika tiga hari lagi Ning Arum akan saya nikahkan dengan Ustadz Imam” ucapk Kyai Rokhim.
Hatiku bagai tersambar petir. Rasa kesalku semakin membuncah. Bagiku ini bukanlah sebuah kabar gembira, melainkan sebuah kabar malapetaka. Batinku berteriak, ya Alloh bukalah semua rahasia ini. aku tak kuat jika harus aku ungkapkan semua disini. Biarlah cukup!!, cukup hanya aku yang terakhir. Aku tidak ingin ada korban lagi dari kemunafikan Ustadz Palsu itu. Aku tak rela jika Ning Arum menjadi “aku”.
 Di depan sana Ustadz Imam hanya bisa tersenyum, dengan rahasia yang begitu besar tersimpan di bibirnya. Semua orang mengucapkan selamat. Sedang aku hanya bisa meneteskan tangis air mata.
***
Termuat dalam buku lomba cipta cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.
  
 *Dedi Prestiadi dilahirkan di Tegal 9 Agustus 1989. Penulis pernah nyantri di Pesantren Mahasiswa (PESMA) An Najah Kutasari Purwokerto tahun 2010-2012. Saat ini penulis menjabat sebagai Waka Kurikulum di SMK Kesehatan Medika Farma Petarukan- Pemalang. Penulis juga pernah aktif di beberapa organisasi kampus seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa seperti LPM OBSESI. Beberapa karyanya telah termuat dalam beberapa buku antologi seperti: Curcol Sahabat Inspirasiku (Leutika Prio), Sayap-Sayap Cupid (Pustaka Jingga), Kami (Tak Butuh) Kartini Indonesia (Pustaka Jingga), Melukis Mimpi (Seruni), Colorful of Love  (Pustaka Jingga), MONI (Motivasi Mini) (Aksara 27), Sedekah Cinta Sang Penjaga Masjid (Oase Qalbu), Kunti I Love You (AG Publishing), Tak Termaafkan        (Puput Happy Publishing), Sang Juara (Pustaka Jingga), Merindu Rasul dalam Sajak (Seruni) Simfoni Rindu (Pustaka Jingga), Cerminku Bicara (Seruni), Dam Delicius (Pustaka Jingga), dan majalah seperti MayaRa dan Media Online lainnya. Saat ini penulis tinggal di rumah tercintanya di Dsn Macan Ucul Rt.04/01, Desa Kedungjati,  Kec, Warureja, Kab Tegal 52183. No HP yang bisa dihubungi yakni: 085729205173. Atau Email: dedi.prestiadi09@gmail.com . dan Blog: http://penadedi09.blogspot.com/



[1] Terimakasih Kekasihku
[2] Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Isra’ Ayat 32).
[3] Sebuah kitab kuning yang membahas akhlak menikah dan berjima’.
[4] Sebutan untuk keluarga pak Kyai.

Minggu, 11 November 2012

Sepenggal Kenangan


Kenanglah kenanganmu....
By: Dedi P

Kenangan tak akan pernah mati meski waktu senantiasa menua, kenangan ibarat potret-potret kehidupan yang senantiasa berjalan, perlahan menjauh bersama waktu. Hemmzzz, membicarakan kenangan mungkin akan terlintas banyak hal dalam diri kita. entah itu kenangan baik, buruk, lucu bahkan kenangan yang jika kita mengingatnya menjadi berfikir “Kok dulu bisa seperti ini yah,... “ bisa membuat kita tertawa, malu atau senyum bahagia.
Well, terlalu panjang jika aku harus mengungkapkan seluruh kenangan dalam hidupku. So aku hanya akan mengisahkan sedikit dari kenangan yang membuat aku teringat dan senyum keheranan dan sedikit malu tentunya.
Baiklah begini ceritanya, sebulumnya aku tidak bermaksud mengingat kenangan ini, namun kejadian ini berawal ketika aku membersihkan sebuah meja belajarku (15/11/12) dan secara tidak sengaja aku menemukan sepucuk surat cinta, dan nampaknya aku sedikit kenal dengan surat tersebut. Tanpa berfikir panjang lantas aku membukannya, dengan rasa penasaran yang membayangiku.
Oh my Good... ternyata ini surat cinta buatku, meskipun usia surat cinta ini lebih dari lima tahun, namun surat ini masih saja terlihat begitu bagus dengan lipatan masih rapi dan tulisan yang masih sangat jelas untuk kubaca. Dan tanpa ragu-ragu aku langsung membuka lipatan demi lipatan dan aku mulai membacanya. Aku hanya bisa tersenyum malu membaca surat ini. bagaimana tidak kisah cintaku yang sudah aku lupakan kini hadir kembali dan membuat aku malu kenapa dulu aku bisa suka dengan dia. Yach mungkin dulu cinta monyet, namun meskipun demikian rasanya lucu saja jika aku mengingat kisah cinta dengannya. Karena meskipun aku pernah di klaim pecaran sama dia, namun aku sendiri tidak pernah merasakan demikian, karena apah? Yah karena aku dan dia adalah sahabat, dan hanya sebatas itu.
Yah, begitulah.. aku tidak harus terlalu banyak mengisahkan kenangan tentang kisahku, biarlah kenangan ini menjadi saksi jika kita hidup dalam sebuah perjalanan waktu, kisah senantiasa berjalan bersama waktu. Biarlah yang telah lalu menjadi sebuah kenangan, dan jalani kehidupan sekarang untuk menciptakan kenangan. Bagaimana kenangan yang akan kamu inginkan semua bergantung pada dirimu. Ciptakanlah kenangan seindah mungkin dengan cara menghiasi harimu penuh kebahagiaan. Kenagan bukan untuk ditakuti atau dicaci. Karena kengangan menjadi sebuah kitab-kitab kisah dan perjalan hidup, so kenanglah kenangan, kenanglah kisahmu. Karena kenangan yang akan mengobati rasa rindumu, saat engkau ingin kembali pada masa-masa itu. (Tulisan saat mengingat kenangan)

Selasa, 06 November 2012

Konflik Merusak Citra Masyarakat dan Bangsa


Oleh: Dedi Prestiadi
Maraknya konflik di indonesia akhir-akhir ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang dikenal memiliki karakter santun dan toleran. Dari data-data yang dikeluarkan oleh Kementrian Dalam Negeri menunjukan jika konflik di Indonesia terus terjadi. Sesuai data yang ada menunjukan setidaknya terdapat 93 kasus konflik pada tahun 2010, kemudian disusul 77 kasus di tahun 2011 dan diperkirakan tahun 2012 mengalami kenaikan jumlah konflik dari tahun sebelumnya.
Aksi konflik semacam ini patut mendapat perhatian khusus dari semua pihak, tidak hanya sebatas pada polisi ataupun TNI sebagai aparat keamanan. Seperti yang diungkapkan oleh orang nomor satu di Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan keprihatinannya setelah terjadinya konflik di lampung selatan. Beliau menyatakan jika semua pihak harus ikut serta menciptakan keamanan, sehingga perdamaian akan tercipta.
Setidaknya dalam kurun waktu bulan oktober saja terdapat beberapa kali pemberitaan terkait dengan konflik, berawal dari konflik tawuran antar pelajar, konflik yang sifatnya primordialisme, konflik aparat dengan mahasiswa, belum lagi konflik yang didasari unsur SARA maupun ekonomi.
Konflik semacam ini menjadi sangat ironi, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal dengan budaya melayu yang kental akan norma-norma budi pekerti dan sopan santunnya. Konflik semacam ini mengakibatkan paradigma yang melekat pada bangsa Indonesia yang santun dan sopan menjadi terancam bahkan mulai terdegradasi.
Indonesia sebagai negara multikultural menjadi bangsa yang unik karena perbedaan budaya dan karakter dari setiap daerahnya. Hal inilah yang kemudian melahirkan pancasila untuk menciptakan rasa persatuan dan kesatuan meskipun adanya perbedaan. Lantas sebenarnya apa yang menjadi pemicu konflik hingga aksi konflik horisontal mudah terjadi dimana-mana.
Meningkatnya konflik horisontal patut kita soroti mengapa masyarakat kita seakan mudah terpancing untuk melakukan tindak kekerasan. Contoh kecilnya konflik di lampung selatan yang menewaskan 12 orang menurut keterangan saksi jika konflik berdarah ini berawal dari hal yang sepele, yang seharusnya bisa diselesaikan secara musyawarah. Ini menjadi bukti jika ada yang salah dimasyarakat sehingga hal semacam ini mudah terjadi.
Dari Ramah menjadi Amarah
Mudahnya masyarakat melakukan aksi kekerasan yang berujung pada konflik menyebabkan citra masyarakat Indonesia yang terkenal ramah kini berubah menjadi amarah. Tidak dapat dipungkiri jika aksi konflik selalu berawal dari rasa marah yang menjadikan seseorang atau kelompok tersebut menjadi bertindak brutal dan eksklusif.
Maraknya konflik yang sering muncul sebagai healine berita di media nasional menjadikan citra masyarakat Indonesia menjadi jelek. Belum lagi aksi kekerasan seperti terorisme yang belum juga usai, dan aksi kenakalan pelajar. Hal semacam ini seharusnya menjadi koreksi kita bersama sebagai bangsa yang terkenal ramah.
Sebagai warga negara kita harus  menyadari jika kita adalah bangsa Indonesia yang terkenal dengan kerukunannya. Jangan biarkan citra masyarakat dan bangsa Indonesia tercoreng oleh aksi-aksi kekerasan yang terus bermunculan. Dan jangan sampai masyarakat berengkarnasi dari sifat ramah menjadi amarah. Hilangkan ego dan amarah untuk menciptakan kehidupan yang aman dan nyaman. Sehingga bangsa Indonesia akan terkenal oleh aksi santunnya bukan aksi kekerasannya.
(Dedi Prestiadi: Alumnus STAIN Purwokerto dan sekarang menjabat sebagai Waka Kurikulum di SMK Medika Farma Pemalang).