Minggu, 01 Desember 2013

Tuntutan dan Tantangan Guru



Tuntutan dan Tantangan Guru
Oleh: Dedi Prestiadi, S.Pd.I

Hari Guru Indonesia (HGI) yang diperingati 25 November seolah menjadi bingkai cerita tentang berbagai problematika guru  di Indonesia yang tiada berkesudahan.
Guru sebagai peran sentral dalam dunia pendidikan tentulah menjadi faktor utama dalam pencapaian tujuan pendidikan, maka sudah sepantasnya seorang guru haruslah bersikap profesional dan memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya. Namun realitasnya tidak dapat kita pungkiri jika masih banyak guru yang kurang berkompeten, sebagai contoh masih banyak guru yang mengajar diluar dari bidang atau kompetensi yang dikuasainya.
Berbagai problematika guru seolah tidak pernah habis, dimulai dari masalah yang belum selesai secara tuntas terkait sertifikasi guru, inpassing atau masalah gaji guru honorer yang jauh dari cukup. Wajar saja jika peringatan hari guru tahun ini masih terdapat demontrasi yang dilakukan oleh guru. Sebagai contog demo yang dilakukan oleg guru-guru di Kebumen yang menuntut kesejahteraan bagi guru honorer. Hal ini tidak terlepas dari berbagai problematika guru yang sampai dengan detik ini belum juga menemui titik akhir.
Melihat kondisi seperti ini, lantas siapa yang patut dipersalahkan? Hal ini patut kita cermati bersama. Melihat berbagai problematika yang ada, kita harus bisa bersikap bijak dan tidak bisa begitu saja menyalahkan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib guru.
Masalah klasik juga berkaitan dengan komposisi yang tidak seimbang antara jumlah guru dan sekolah menyebabkan sekolah kekurangan guru, hal ini tentu saja dirasakan  terutama di kawasan-kawasan daerah terpencil. Bahkan berdasarkan hasil inventarisasi yang telah dilakukan oleh Panitia Khusus (Pansus) Guru yang dibentuk oleh DPR RI menemukan sejumlah temuan setidaknya di Jateng saja terdapat kekurangan 60.000 guru SD ( SM, 28/09/2013, Hal 18). Hal semacam inilah yang kemudian menjadikan banyak sekolah yang asal-asalan merekrut guru meskipun terkadang tidak sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan.
Persoalan selanjutnya yang mucul adalah terkait dengan profesionalisme guru di tengah problematika guru. Disatu sisi begitu banyak problematika yang dirasakan oleh guru terkait bentuk penghargaan pemerintah yang dinilai kurang, namun disisi yang lain sebagai guru juga harus bisa berinstropeksi diri sudah sejauh mana kemampuan kita dalam memberikan pelayanan pada siswa? Atau jangan-jangan guru belum memenuhi kompetensi yang diharapkan oleh pemerintah seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan Dosen. Inilah tantangan yang harus dipenuhi oleh guru.
Menanti Solusi Pemerintah
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi tuntutan guru. Namun setali tiga uang, alih-alih ingin memberikan sebuah solusi yang baik, tetapi justru menimbulkan sebuah perdebatan baru yang mucul di kalangan guru sebagai respons dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa hanya bersifat temporer dalam menyelesaikan problems yang ada.
Berapa banyak peraturan pemerintah, peraturan presiden ataupun undang-udang yang telah lahir untuk mengatur guru, namun sampai dengan sekarang persoalan tidak kunjung usai. Kebijakan pemerintah yang baik seringkali ternoda oleh implementasi yang kurang baik hal inilah yang diungkapkan oleh Dr Sulistiyo. Hal ini menyebabkan rumusan pemerintah yang sudah baik menjadi kurang maksimal dalam tataran implementasi di lapangan.
Perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan terutama terhadap guru memang tidak perlu kita ragukan lagi. Banyak kebijakan yang dikeluarkan untuk menyelesaikan problematika yang ada dan juga kaitannya peningkatan profesionalisme guru. Hal ini tentu menjadi nilai positif buat pemerintah yang terus mengatur profesionalisme guru melalui berbagai peraturan dan undang-undang yang mengatur tentang guru.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme guru, semisal dengan kebijakan portofolio guru, sertififikasi guru dan yang terbaru adalah dengan adanya Pelatihan  Profesi Guru (PPG). Namun kondisi semacam ini dirasa hanya sebagai kebijakan sesaat yang kurang begitu terasa dalam peningkatan komptensi guru.
Sudah sepantasnya kita menantikan solusi jitu dari pemerintah untuk mengatasi problematika dan tuntutan guru. Hal ini menjadi penting supaya terjadi kesesuaian antara apa yang diharapkan oleh guru dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah kepada guru di Indonesia. Namun sebagai guru juga tidak bisa hanya menuntut, tetapi juga harus bisa membuktikan tantangan seorang guru untuk bersikap profesional dalam memberikan pengabdiannya untuk mencerdaskan generasi bangsa. 

Dedi Prestiadi, S.Pd.I, Guru dan Waka Kurikulum SMK Kesehatan Medika Farma Pemalang, dan juga mahasiswa Manajemen Pendidikan, kelas khusus Program Pasca Sarjana (PPs) UNNES.