Rabu, 02 Desember 2015

Pendekatan Kepemimpinan

Pendekatan Gaya Kepemimpinan
  Pendekatan  gaya kepemimpinan menekankan pada perilaku seorang pemimpin. Ia berbeda dengan  pendekatan  sifat yang menekankan pada karakteristik pribadi pemimpin, juga berbeda dengan pendekatan keahlian yang menekankan pada kemampuan administratif  pemimpin. Pendekatan  gaya kepemimpinan fokus pada apa benar-benar dilakukan oleh pemimpindan bagaimana cara mereka bertindak. Pendekatan ini juga memperluas kajian kepemimpinan dengan bergerak ke arah tindakan-tindakan pemimpin terhadap anak buah di dalam aneka situasi.
Pendekatan ini menganggap kepemimpinan apapun selalu menunjukkan dua perilaku umum : (1) Perilaku Kerja, dan (2)  Perilaku Hubungan  Perilaku kerja memfasilitasi tercapainyatujuan: Mereka membantu anggota kelompok mencapai tujuannya. Perilaku hubungan membantu bawahan untuk merasa nyaman baik dengan diri sendiri, dengan orang lain, maupun dengansituasi dimana mereka berada. Tujuan utama pendekatan  gaya kepemimpinan adalah menjelaskan bagaimana pemimpin mengkombinasikan kedua jenis perilaku (kerja dan hubungan) guna mempengaruhi bawahan dalam upayanya mencapai tujuan organisasi
Pendekatan Kepemimpinan Situasional
Pendekatan Situasional adalah pendekatan yang paling banyak dikenal. Pendekatan inidikembangkan oleh Paul Hersey and Kenneth H. Blanchard tahun 1969 berdasarkan Teori Gaya Manajemen Tiga Dimensi karya William J. Reddin tahun 1967. Pendekatan kepemimpinan Situasional fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi yang unik.Premis dari pendekatan ini adalah  perbedaan situasi membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Dari cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif harus mampu menyesuaikan gaya mereka terhadap tuntutan situasi yang berubah-ubah.
Pendekatan kepemimpinan situasional  menekankan bahwa kepemimpinan terdiri atas  dimensi arahan dan dimensi dukungan. Setiap dimensi harus diterapkan secara tepat denganmemperhatikan situasi yang berkembang. Guna menentukan apa yang dibutuhkan oleh situasikhusus, pemimpin harus mengevaluasi pekerja mereka dan menilai seberapa kompeten dan besar komitmen pekerja atas pekerjaan yang diberikan.
Pendekatan Teori Kepemimpinan Kontijensi (Ketidakpastian)
Teori Kontijensi dalam kajian kepemimpinan fokus pada interaksi antara variabel-variabelyang terlibat di dalam situasi serta pola-pola perilaku kepemimpinan. Teori  Kontijensi didasarkanatas keyakinan bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang cocok bagi aneka situasi. Teori Kontijensi punya beberapa model, yang menurut Laurie J. Mullins terdiri atas:
1.  Model Kontijensi Fred Edward Fiedler yang menekankan pada Situasi Kepemimpinan yang Cocok;
2.  Model Kontijensi dari Victor Harold Vroom and Philip W. Yetton serta Victor Harold V room and Arthur G. Jago yang menekankan pada Kualitas dan Penerimaan atas Keputusan Pemimpin;
3.  Teori  Path-Goal dari Robert J. House serta Robert J. Houseand Gary Dessler;
4.  Kedewasaan Pengikut  dari Paul Hersey and Kenneth H. Blanchard.
Pendekatan Teori Path-Goal
Teori Path-Goal sebagai salah satu pendekatan dalam kepemimpinan masih termasuk kedalam kategori Pendekatan Kontijensi. Teori ini dikembangkan oleh Robert J. House serta RobertJ. Houseand Gary Dessler.
Teori ini mengajukan pendapat bahwa kinerja bawahan dipengaruhi oleh sejauh manamanajer mampu memuaskan harapan-harapan mereka. Teori Path-Goal menganggap bawahan memandang perilaku pemimpin sebagai pengaruh yang mampu memotivasi diri mereka, yang berarti: 
·      Kepuasan atas kebutuhan mereka bergantung atas kinerja efektif, dan
·      Arahan, bimbingan, pelatihan, dan dukungan yang diperlukan.
Berdasarkan hal-hal tersebut, House mengidentifikasi 4 tipe perilaku kepemimpinansebagai berikut:
1.      Kepempimpinan Direktif , melibatkan tindak pembiaran bawahan untuk tahu secara pasti apayang diharapkan dari seorang pemimpin melalui proses pemberian arahan (direksi). Bawahandiharap mengikuti aturan dan kebijakan.
2.       Kepemimpinan Suportif , melibatkan cara yang bersahabat dan bersifat merangkul pemimpin atas bawahan dengan menampakkan perhatian atas kebutuhan dan kesejahteraan bawahan.
3.      Kepempimpinan Partisipatif , melibatkan diadakannya proses konsultatif dengan para bawahan serta kecenderungan menggunakan evaluasi yang berasal dari opini dan saran bawahan sebelum manajer membuat keputusan.
4.      Kepemimpinan Berorientasi Pencapaian, melibatkan perancangan tujuan yang menantang bagi para bawahan, mencari perbaikan atas kinerja mereka, dan menunjukkan keyakinan bahwa bawahan dapat melakukan kinerja secara baik
Teori Path-Goal menyatakan bahwa tipe perilaku kepemimpinan yang berbeda dapat dipraktekkan oleh orang yang sama di situasi yang berbeda. Perilaku Kepemimpinan dalamTeori Path-Goal ditentukan oleh dua faktor situasional yaitu: (1) Karakteristik Personal  Bawahan dan (2) Sifat Pekerjaan.
Pendekatan Teori Pertukaran Leader-Member (Pemimpin-Anggota)
 Hingga sejauh ini, pendekatan-pendekatan kepemimpinan lebih tertuju pada Pemimpin (Pendekatan Sifat, Pendekatan Keahlian, dan Pendekatan Gaya) atau pada Pengikut dan KonteksSituasi (Pendekatan Situasional, Teori Kontijensi, dan Teori Path-Goal ). Teori Leader-Member  Exchange ( LMX Theory) berbeda.
Teori LMX  fokus pada interaksi antara Pemimpin dengan Pengikut. Teori initermanifestasi dalam pola hubungan dyadic (berdasar 2 pihak) antara pemimpin dan pengikutsebagai fokus proses kepempimpinan.
Pendekatan Kepemimpinan Transformasional
 Pendekatan Kepemimpinan Transformasional awalnya digagas oleh James MacGregor Burns tahun 1978. membedakan 2 jenis kepemimpinan yaitu Kepemimpinan Transaksional dan lawannya, Kepemimpinan Transformasional. Pemimpin bercorak transaksional adalah mereka yang memimpin lewat pertukaran sosial. Misalnya, politisi memimpin dengan cara “menukar satu hal dengan hal lain: pekerjaan dengansuara, atau subsidi dengan kontribusi kampanye. Pemimpin bisnis bercorak transaksional menawarkan reward  finansial bagi produktivitas atau tidak memberi reward atas kurangnya produktivitas Pemimpin bercorak transformasional  adalah mereka yang merangsang danmengispirasikan pengikutnya, baik untuk mencapai sesuatu yang tidak biasa dan, dalam prosesnya, mengembangkan kapasitas kepemimpinannya sendiri. Pemimpin transformasional membantu pengikutnya untuk berkembang dan membuat mereka jadi pemimpin baru dengan caramerespon kebutuhan-kebutuhan yang bersifat individual dari para pengikut. Mereka memberdayakan para pengikut dengan cara menselaraskan tujuan yang lebih besar individual para pengikut,  pemimpin, kelompok, dan organisasi.
Pendekatan Kepemimpinan Otentik 
 Kepemimpinan otentik  terdapat dalam tulisan Bruce J. Avolio and FredLuthans. Avolio and  Luthans mendefinisikan kepemimpinan otentik  sebagai “ proses kepemimpinan yang dihasilkan dari perpaduan antara kapasitas psikologis individu dengankonteks organisasi yang terbangun baik, sehingga mampu menghasilkan perilaku yang tinggikadar kewaspadaan dan kemampuannya dalam mengendalikan diri, sekaligus mendorong pengembangan diri secara positif.” Kepemimpinan otentik memiliki empatkomponen, yaitu: (1) Kewaspadaan Diri; (2) Perspektif Moral yang Terinternalisasi; (3) Pengelolaan Berimbang; dan (4) TransparansiHubungan.
Pendekatan Kepemimpinan Tim
Tim adalah kelompok di dalam organisasi yang anggota-anggotanya saling bergantungsatu sama lain, saling berbagi tujuan bersama, dan dicirikan oleh adanya satu orang yangmengkoordinasikan kegiatan bersama mereka. Koordinasi tersebut dilakukan demi mencapaitujuan bersama. Contoh dari sebuah tim adalah tim manajemen proyek, gugus tugas, unit-unitkerja, atau tim pengembang organisasi. Di dalam tim, fungsi utama kepemimpinan adalah berupaya mencapai tujuan organisasi(tim) secara kolektif, bukan individual. Tim umumnya memiliki seorang pemimpin yang telahditentukan. Pemimpin tersebut dapat berasal dari dalam tim itu sendiri maupun dari luar.Peran kepemimpinan di dalam tim dapat saja dirotasi sehingga mungkin saja diisi oleh para anggota lain antarwaktu. Peran kepemimpinan di dalam tim juga bisa disebar di antarasejumlah anggota tim tanpa harus ditentukan seorang pemimpin secara formal. Kepemimpinanyang tersebar tersebut umum ditemukan dalam kepemimpinan tim. Posisi kepemimpinan dalamtim tidak lagi bercorak satu pemimpin formal selaku pemegang tanggung jawab utama melainkan jatuh ke tangan beberapa orang yang berpengalaman di dalam tim.
Pendekatan Psikodinamik 
 Pendekatan psikodinamik dalam kepemimpinan dibangun berdasarkan dua asumsidasar. Pertama, karakteristik personal individu sesungguhnya telah tertanam jauh di dalam kepribadiannya sehingga sulit untuk diubah walaupun dengan aneka cara. Kuncinya adalah pengikut harus menerima secara legowo karakteristik seorang pemimpin, memahami dampak kepribadiannya tersebut diri mereka, dan menerima keistimewaan dan faktor ideosinkretik yangmelekat pada seorang pemimpin. Kedua, invididu memiliki sejumlah motif dan perasaan yang berada di bawah alam sadarnya. Motif dan perasaan ini tidak mereka sadari. Sebab itu, perilakuindividu tidak hanya merupakan hasil dari tindakan dan respon yang bisa diamati, melainkan jugaresidu emosi dari pengalaman sebelumnya yang telah mengendap sekian lama di alam bawah sadarnya.
Pendekatan psikodinamik berakar dari karya psikoanalisis Sigmund tahun 1938. Freud berusaha membantu masalah para pasiennya yang tidak berhasil ditangani oleh metode-metodekonvensional. Metode yang ia gunakan adalah menghipnotis pasien guna menyingkap alam bawah sadanya. Kajian Freud lalu dilanjutkan muridnya, Carl Gustave Jung. Kajian psikoanalitisFrued dan Jung inilah yang kemudian mendasari pendekatan psikodinamika dalamkepemimpinan.